Rusuh di Unikama, 5 Orang Luka


MALANG – Kampus Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) mencekam, Senin (15/10). Saling serang antara dua kelompok massa dan hujan batu mengawali pagi di kampus yang berlokasi di Jalan S Supriadi, Sukun itu.

Akibat bentrok fisik tersebut, fasilitas gedung rektorat Unikama rusak. Mulai dari pagar depan ambruk, kaca gedung pecah hingga kebutuhan kursi terobrak-abrik. Setidaknya, ada lima korban yang masih berstatus di RST Soepraoen. Yakni, Sugiyo, 52, Joko Umbaran, 74, Muhammad Zikri, 28, Kasiyadi, 54 dan Ahmad Munir, 23.
Mereka membahas luka memar di bagian kepala dan lecet. Sedangkan, orang lain yang menderita sakit dan hanya lecet langsung pulang setelah itu. Dari informasi yang dihimpun Malang Post, rusuh di Unikama dimulai pukul 06.30 WIB. Sekelompok massa yang terdiri atas 50 orang merangsek masuk ke gedung rektorat.

……… Saat ini, massa ini bertemu dengan kelompok lain yang lebih besar. Aksi lempar batu tak terelakkan. Kedua kubu saling berteriak dan mengumpat.
Massa yang dulu pertama merangsek bertahan di dalam ruangan rektorat. Sedangkan, yang lebih besar, mengepung dari luar gedung. Akibat hujan batu, ada delapan korban, dengan lima orang korban berdarah di RST Soepraoen Sukun.
Polres Malang Kota (Makota) beserta jajaran Polsek Sukun langsung meluncur ke lokasi setelah menerima informasi tersebut. Satu kompi petugas polisi dari berbagai satuan, dibantu personel Kodim Kota Malang merapat untuk meredam tulang. Polsek Sukun yang sudah duluan berada di lokasi kompilasi konflik meletup pagi hari, termasuk massa bentrok yang berkepanjangan.

Begitu satu kompi pasukan polisi melerai bentrok, petugas mengambil keputusan untuk membubarkan kerusuhan ini. Massa pertama dievakuasi ke truk Dalmas Polres Makota, untuk di aman dari genggaman lain yang sudah mengepung di luar. Polisi membuat pagar betis saat massa pertama satu per satu menaiki truk. Meski suasana saat proses evakuasi, polisi berhasil meredam pembicaraan dan membubarkan massa sekitar pukul 09.30 WIB.

Kapolsek Sukun, Kompol Anang Tri Hananta mengatakan, gedung kampus Unikama langsung diberi garis polisi sebagai TKP tindak kejahatan. “Kami memiliki polisi, untuk penyelidikan, karena ada dugaan tindak pidana dalam kerusuhan tadi,” ujar Anang kepada wartawan, saat menguasai.

Pengurus Perkumpulan Pembina Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi (PPLP PT) PGRI kubu Selamet Riyadi angkat bicara. Mereka mengatakan kubu lama yang telah diberi masa jabatan sebagai biang kericuhan. Pimpinan PPLP-PGRI Selamet Riyadi mengatakan, konflik berawal dari sosok rektor lama Dr Pieter Sahertian yang melakukan wisuda Sabtu (13/10) lalu. Ia mengklaim Pieter sudah bukan rektor pendidikan masa habisnya hari sebelum wisuda. Plt Rektor yang diangkat oleh PPLP-PGRI, Dr Koenta Adji mengaku sebagai rektor yang baru dan sah.

“Kami harap Pak Pieter bersama pendukungnya legowo. Kami pengurus yang sah menurut Dikti. Kami yang berhak melakukan kepengurusan dan perkuliahan,” terang Selamet ditemui di Jalan Keben II Permai, Sukun. Ia mengaku berada di Tulungagung saat kericuhan terjadi. Seketika itu langsung meluncur ke Malang. Dia mendapat kabar ada perlawanan dari pihak pendukung Pieter Sahertian, yang menurut Selamet, dikoordinir Joyce Soraya, mantan Wakil Rektor III, serta sekelompok dosen dan karyawan.
Selamet menyebut massa yang masuk ke Unikama kali pertama adalah mahasiswa  yang memprotes wisuda oleh Pieter. Mereka beralasan Pieter sudah tidak lagi menjabat sebagai rektor. Menurut Selamet, massa yang disebutnya sebagai mahasiswa itu, ingin menempatkan Koenta Adji di kantor rektor karena dianggap sudah sah setelah dilantik PPLP-PGRI Selamet.
“Itu murni gerakan mahasiswa, yang protes wisuda Unikama oleh Pieter, padahal Pieter tak sah sebagai rektor. Rektor baru sudah ada, dan telah dilantik, yaitu Koenta Adji. Mahasiswa ingin menempatkan rektor baru untuk pimpin kampus, tapi dilawan pendukung Pieter,” sambung Selamet.

Dia membantah para mahasiswa yang datang kali pertama dikerahkan untuk menyerbu kampus. Menurut Selamet, para mahasiswa ini murni bergerak karena kekesalan terhadap rektor lama yang tak mau legowo.
Usai konflik ini terjadi, Selamet mengaku berkomunikasi dengan pihak kepolisian. Dia menegaskan  terbuka untuk berkomunikasi dengan kubu Pieter Sahertian. Syaratnya, Selamet ingin pertemuan dihadiri Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Ristekdikti. “Sesuai arahan polisi, pertemuan dengan pihak sana. Tapi, kami minta ada Dikti hadir, kalau gak, pasti berat sebelah,” tuturnya.

Sementara itu, kubu Rektor Unikama, Dr. Pieter Sahertian, M.Si, menjelaskan tidak tahu persis bagaimana awal mulanya bentrok terjadi. Namun berdasarkan laporan versi mereka, , kelompok Selamet Riyadi yang menerobos pagar hingga roboh. Pihak seteru  juga mengajak mahasiswa yang sudah non aktif dimobilisasi dalam aksi itu.
“Mereka masuk kemudian menduduki, menguasai bahkan merusak beberapa fasilitas kampus serta berdasarkan informasi juga mengacak dokumen yang ada di rektorat dan BAU,” urai Pieter.

Lebih lanjut dia mengatakan, pemaksaan yang dilakukan oleh kubu pengurus baru bukan baru kali ini terjadi. Pada 30 April lalu juga sudah melakukan aksi yang sama,yakni menyerang dan menduduki kantor yayasan namun akhirnya berhasil dihalau keluar.
“Gaya-gaya premanisme seperti ini kok masih dipelihara di kampus. Kami sangat menyesal dengan kejadian seperti itu. Artinya cara-cara untuk memperoleh jabatan harusnya ada prosedurnya,” jelasnya.
Selain menyoroti kubu lawan, Pieter juga menyayangkan apa yang dilakukan oleh kubu Koenta Adji yang mengangkat Erik Teguh Prakoso, S.Pd, M.Pd dari dosen Bimbingan dan Konseling menjadi Wakil Rektor III.

“Dengan kejadian kericuhan tersebut mahasiswa mungkin merasa khawatir sehingga  menghentikan kegiatan perkuliahannya. Namun sudah saya imbau bagi wilayah rektorat untuk tetap memberikan pelayanan bahkan besok (hari ini, red) sudah bisa kembali kuliah,” tandasnya.

Sebelumnya Pieter Sehartian sudah menginformasikan kepada selurh civitas akademika untuk akses keluar masuk kampus melalui satu pintu saja. Tujuannya untuk menghindari adanya kekerasan, upaya-upaya penyerangan yang dapat menimbulkan kegaduhan, ketidaknyamanan, maupun ketidakamanan lingkungan kampus. (fin/lin/van)

sumber : https://www.malang-post.com

 

Share Button

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *